Selasa, 16 Februari 2021

ARTIKEL DARI SMAN 1 BASARANG BERGERAK DARI PROFESI KE REFLEKSI

 

17 Februari 2021 akhir modul 2.1 Memenuhi kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi 

ARTIKEL DARI SMAN 1 BASARANG BERGERAK DARI PROFESI KE REFLEKSI

17 Februari 2021,Basarang

Made Pujangga_CGP SMAN 1 Basarang Kapuas Kalimantan Tengah Angkatan 1 Tahun 2020

Fasilitator : Rini Nuraeni, M.Si

Pendamping : Aristanika, S.Psi

GURU ITU MERANCANG RPP, MELAKSANAKAN PBM, MENGASESMAN SIKAP, PROSES, DAN HASIL SERTA REFLEKSI…..



Refleksi diri adalah sebuah proses melihat kembali pengalaman yang telah dijalani untuk dapat menarik lessons learned bagi diri sendiri dan dilanjutkan dengan penyusunan sebuah action plan untuk mengurangi kesenjangan (gap) yang masih ada antara harapan dan kenyataan.

Saat ini Indonesia mengalami masa pandemik sehingga pembelajaran di sekolah dilaksanakan dengan PJJ. Istilah pendidikan jarak jauh (PJJ) yang tercantum dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 yang menyatakan bahwa pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik, dan pembelajarannya menggunakan beragai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi dan media lainnya.

Sejalan dengan pernyataan seorang filosof pendidikan yaitu Ki Hadjar dewantara bahwa anak-anak hidup dan tumbuh sesuai qodrat dan zamannya. Kita sebagai guru harus bisa mendesain lingkungan belajar yang memungkinkan tumbuhnya murid merdeka dan menuntun belajar mereka sesuai dengan perkembangan zaman yaitu di era industry 4.0 yang sumber belajarnya mulai menggunakan teknologi komunikasi dan informasi.Namun kenyataannya pembelajaran jarak jauh selama ini hanya berupa pemberian tugas lewat whatsaap tanpa adanya penjelasan dari guru tentang materi terlebih dahulu. Akibatnya siswa tidak bisa mengerjakan tugas dari guru dan tidak ada antsiaus untuk mengerjakan tugas dari guru.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu adanya model pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang bisa menuntun siswa sesuai qodrat dan zamannya. Suatu model pembelajaran yang memanfaatkan IT (ilmu tekhnology) dan berpusat pada peserta didik, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik di zaman era revolusi industry 4.0 dan di masa pandemik ini.

Agar pembelajaran efektif penulis mencoba menerapkan  model pembelajaran sinkronus dan asinkronus. Model pembelajaran sinkronus berarti guru dan siswa belajar di waktu yang sama dilakukan secara virtual melalui zoom meeting.  Sedangkan model pembelajaran asinkronus adalah siswa belajar di waktu yang berbeda dengan gurunya. Misalnya siswa mendapatkan tugas untuk dikerjakan di rumah membuat video untuk mendeskripsikan teks ekspanasi yang telah dibaca kemudian mengirimnya di WA kelompok belajar.

Untuk mengakomodir PJJ model pembelajaran sinkronus dan asinkronus terutama untuk memenuhi kebutuhan belajar murid seharusnya pembelajaran itu dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi melalui pembelajaran berdiferensiasi (differentiated instruction). Pendekatan ini menghendaki agar kebutuhan pendidikan siswa berbakat dilayani di dalam kelas reguler. Program ini menawarkan serangkaian pilihan belajar pada siswa berbakat dengan tujuan menggali dan mengarahkan pengajaran pada tingkat kesiapan, minat, dan profil belajar yang berbeda-beda. Dalam pengajaran berdiferensiasi ini, guru menggunakan:

(a) beragam cara agar siswa dapat mengeksplorasi isi kurikulum,

(b) beragam kegiatan atau proses yang masuk akal sehingga siswa

dapat mengerti dan memiliki informasi dan ide, serta (c) beragam pilihan di mana siswa dapat mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari (Tomlinson, 1995). Pengajaran berdiferensiasi tidak berarti memberikan tugas yang sama pada seluruh siswa dan melakukan penyesuaian untuk siswa berbakat dengan membedakan tingkat kesulitan pertanyaan, memberikan tugas yang lebih sulit pada mereka, atau membiarkan siswa berbakat menyelesaikan program regulernya kemudian bebas mengerjakan permainan sebagai pengayaan.

Pengajaran ini juga tidak berarti memberikan lebih banyak tugas, misalnya soal matematika, pada siswa yang telah menguasai materi pelajaran tersebut. Sebaliknya, pembelajaran berdiferensiasi ditandai oleh empat karakteristk umum, yaitu:

1. Pembelajaran berfokus pada konsep dan prinsip pokok. Dalam hal ini, semua siswa mengeksplorasi konsep-konsep pokok bahan ajar. Dengan cara seperti ini, semua siswa, termasuk siswa yang agak lambat (struggling learners) bisa memahami dan menggunakan ide-ide dari konsep yang diajarkan. Pada saat yang sama, siswa berbakat memperluas pemahaman dan aplikasi konsep pokok tersebut. Pengajaran lebih menekankan siswa untuk memahami materi pelajaran dan bukannya menghapal serpihan-serpihan informasi. Pengajaran

berbasis konsep dan prinsip mendorong guru untuk memberikan beragam pilihan dalam belajar.

2. Evaluasi kesiapan dan perkembangan belajar siswa diakomodasi ke dalam kurikulum. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak semua siswa memerlukan satu kegiatan atau bagian tertentu dari proses pembelajaran secara sama. Guru perlu terus menerus mengevaluasi kesiapan dan minat siswa dengan memberi kan dukungan bila siswa membutuhkan interaksi dan bimbingan tambahan, serta memperluas eksplorasi siswa terutama bagi mereka yang sudah siap untuk

mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menantang.

3. Ada pengelompokan siswa secara fleksibel. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, siswa berbakat sering belajar dengan banyak pola, seperti belajar sendiri-sendiri, belajar berpasangan, maupun belajar dalam kelompok. Kadang-kadang tugas juga perlu dirancang berdasarkan tingkat kesiapan siswa, minat, gaya sebelajar siswa maupun kombinasi antara tingkat kesiapan, minat, dan gaya belajar. Cara belajar linier dan klasik juga digunakan untuk mengajarkan ide

baru.

4. Siswa menjadi penjelajah aktif (active explorer). Tugas guru adalah membimbing eksplorasi tersebut. Karena beragam kegiatan dapat terjadi secara simultan di dalam kelas, guru akan berperan sebagai pem-bimbing dan fasilitator, dan bukannya sebagai dispenser informasi.Berkaca dari karakteristik Pembelajaran Berdiferensiasi tersebut terlihat gambaran bahwa Pembelajaran Berdiferensiasi mencerminkan suatu proses pembelajaran yang mencerminkan :

1. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap

murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.

2. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.

3. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

4. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan

penugasan serta penilaian yang berbeda.

5. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

Lebih lanjut Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. Adapun ketiga aspek tersebut adalah:

1. Kesiapan belajar (readiness) murid

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut. Perlu diingat bahwa kesiapan belajar murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan. Adapun tujuan melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan tingkat kesiapan belajar adalah untuk memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran, sehingga dipastikan murid terpenuhi kebutuhan belajarnya (Joseph, Thomas, Simonette & Ramsook, 2013).

2. Minat murid

Secara umum kita mengetahui bahwa seperti juga kita sebagai orang dewasa, murid pun juga memiliki minatnya sendiri-sendiri. Ada murid yang tertarik bidang seni, ilmu pasti, ilmu sosial, drama atau yang lainnya. Minat disini merupakan salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran.

Sepanjang tahun, murid yang berbeda akan menunjukkan minat pada topik yang berbeda. Gagasan untuk membedakan melalui minat adalah untuk "menghubungkan" murid pada pelajaran untuk menjaga minat mereka. Dengan menjaga minat murid tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja murid. Beberapa ide yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan

mempertahankan minat diantaranya misalnya:

• Meminta murid untuk memilih apakah mereka ingin mendemonstrasikan pemahaman dengan karya tulis, lagu, melakukan pertunjukan.

• Menggunakan teknik pembelajaran kooperatif, misalnya STAD.

• Menggunakan strategi investigasi kelompok berdasarkan minat.

• Membuat kegiatan “sehari di tempat kerja”. Murid diminta mempelajari bagaimana sebuah keterampilan tertentu diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Mereka boleh memilih profesi yang sesuai minat mereka.

• Membuat model.

3. Profil belajar murid

Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor, seperti: bahasa, budaya, kesehatan, keadaan keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu juga akan berhubungan dengan gaya belajar seseorang. Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018) profil belajar murid ini merupakan

pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dll. Hal ini bertujuan untuk untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. Namun demikian, sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri. Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat memvariasikan metode dan pendekatan

mengajar mereka. Penting juga untuk diingat bahwa kebanyakan orang lebih suka kombinasi profil.Dari gambaran terkait Pembelajaran Berdiferensiasi tersebut diatas, ada 4 substansi pembelajaran yang harus dituangkan dalam rancangan pembelajaran, yaitu :

1. Diferensiasi konten

2. Diferansiasi proses

3. Diferensiasi produk

4. Diferensiasi lingkungan belajar.

Menurut hemat saya, dalam situasi pembelajaran masih berlangsung secara virtual (online), saya kesulitan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi proses, karena mengingat kondisi PJJ yang mana pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jaringan) akan sangat sulit bagi guru mengobservasi proses pembelajaran siswa secara langsung dan cermat. Apalagi harus

menggunakan proses berjenjang yag tentunya harus menguras tenaga ekstra bagi guru dalam mengobservasi prosesnya dan mengevaluasinya. Untuk menerapkan hal yang sulit tersebut, dukungan yang diperlukan adalah dukungan penuh pihak orang tua atau wali siswa untuk turut bersamasama mendampingi siswa di dalam proses pembelajarannya sehingga akan didapat

hasil yang masimal. Akses dukungan tersebut akan saya dapatkan dari membangun komunikasi yang baik dengan orang tua siswa Dalam menghadapi sebuah situasi pembelajaran, dimana kebutuhan belajar siswa saya tidak dapat diakomodasi oleh pembelajaran berdiferensiasi saya akan memberanikan diri mengambil risiko untuk memodifikasi pembelajaran saya, terlebih saya mengajar Mata Pelajaran Biologi dan PKWU walaupun hal ini mungkin tidak umum atau tidak sesuai dengan sistem yang ada. Hal ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan siswa yang mesti kita penuhi, modifikasi yang akan saya lakukan saya usahakan untuk sekecil kecilnya berbenturan dengan sistem namun tetap harus berkordinasi dengan atasan kita sebagai penanggung jawab kegiatan di sekolah. Bahkan sebelum saya mengenal pembelajaran berdiferensiasi saya sudah pernah mengambil resiko dalam memodifikasi pembelajaran saya, saya pernah menggunakan model Blended learning yang merupakan Pembelajaran campuran adalah program pendidikan formal yang memungkinkan siswa belajar melalui konten dan petunjuk yang disampaikan secara daring dengan kendali mandiri terhadap waktu, tempat, urutan, maupun kecepatan belajar.

MARI  LAKUKAN YANG TERBAIK TERUTAMA PROSES BELAJAR MENGAJAR…. BERGERAK DARI PROFESI KE REFLEKSI

SALAM, SAPA,SENYUM, SOPAN, & SANTUN DARI BUMI TAMBUN BUNGAI

SALAM DAN BAHAGIA : DISIPLIN ITU ASYIK, BERBUDAYA ITU KEREN

 


 


Sabtu, 12 Desember 2020

PGP-1-Kabupaten Kapuas-Made Pujangga-1.4-Aksi Nyata

1.4.a.10. Aksi Nyata - Penerapan Budaya Positif

Modul 1.4 Budaya Positif  (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang)

 Made Pujangga_CGP SMAN 1 Basarang Kapuas Kalimantan Tengah Angkatan 1 Tahun 2020

Fasilitator : Rini Nuraeni, M.Si

Pendamping : Aristanika, S.Psi

 

1.      Latar belakang yang dihadapi oleh Calon Guru Penggerak

Pendidikan itu merupakan suatu tuntutan di dalam hidup tumbuh kembangnya anak anak. Dimana Peran Pendidikan terutana seorang Pendidik harus menuntun anak sesuai kodrat yang dia miliki. Anak anak adalah manusia biasa yang mempunyai kepribadian, karakter, kemampuan , kekuatan, kreativitas yang berbeda beda sesuai dengan kodrat yang dimilikinya, sehingga kita sebagai pendidik tidak mempunyai hak untuk mengharapkan yang lebih dari kodrat mereka namun kita mampu menuntun tumbuh kembangnya mereka serta memperbaiki tingkah lakunya jika berjalan dijalan yang tidak benar. Seperti Seorang petani yang menanam padi, petani hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat ulat atau jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya, tetapi ia tidak dapat menggantikan kodrat padinya. Misalnya ia tak dapat menggantikan padi yang ditanamnya itu tumbuh sebagai jagung, dan tak dapat memelihara padi dengan cara memelihara jagung ataupun rambutan. Demikianlah Pendidikan, Walaupun pendidik hanya mampu untuk menuntun akan tetapi manfaatnya sangat berguna kelak dimasa depan yang akan datang.

Kita semua percaya bahwa tujuan penting sekolah adalah pembentukan karakter. Itu mengapa banyak program sekolah yang bertujuan untuk menumbuhkan karakter murid. Misalnya saja dulu pernah ada program kantin kejujuran dengan tujuan menumbuhkan karakter jujur pada murid atau program yang banyak dicanangkan saat ini adalah program literasi untuk menumbuhkan karakter kritis pada murid. Ketika kita berbicara sekolah sebagai institusi pembentukan karakter. Mari kita ingat kembali makna pendidikan sendiri dari Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara:“Adapun maksud pendidikan yaitu: menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya” (dikutip dari buku Ki Hajar Dewantara seri 1 pendidikan halaman 20).Dari kutipan tersebut mengisyaratkan kita sebagai guru perlu membangun komunitas di sekolah untuk menyiapkan murid di masa depan agar menjadi manusia berdaya tidak hanya untuk pribadi tapi berdampak pada masyarakat. Pertanyaannya sekarang adalah karakter seperti apa yang bisa menyiapkan murid menjadi manusia dan anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan seperti tujuan pendidikan sendiri. Jika kita mengacu pada dasar negara kita yaitu, Pancasila, ada beberapa karakter yang dapat kita contoh, antara lain: Beriman, Bertaqwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia, Kreatif, Gotong Royong, Berkebhinekaan Global, Bernalar Kritis dan Mandiri.

Beberapa tahun belakangan, Pendidikan Karakter menjadi fokus sejumlah sekolah. Bahkan, ada sekolah yang memfokuskan diri sebagai “sekolah karakter” dan mengedepankan pendidikan karakter ketimbang hanya fokus pada pendidikan akademis. Pembentukan karakter membutuhkan proses yang lama dan panjang serta butuh konsistensi dari orang-orang sekitar. Pendidikan karakter pun dinilai paling efektif bila dipupuk pada anak sejak dini .Lingkungan sekolah, sebagai salah satu lembaga yang punya kepentingan dalam pembentukan karakter anak, perlu membangun budaya positif.Budaya positif sekolah ini berisi kebiasaan yang disepakati bersama untuk dijalankan dalam waktu yang lama. Jika kebiasaan positif ini sudah membudaya, maka nilai-nilai karakter yang diharapkan akan terbentuk pada diri anak. SMAN 1 Basarang merupakan salah satu SMA Negeri di kabupaten Kapuas yang terletak di Jalan Trans Kalimantan KM 11 Desa Basarang Jaya kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah memiliki komitmen tinggi terkait sekolah sebagai institusi pembentukan karakter oleh karena itu hal ini menjadi salah satu alasan Kami melakukan aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang).

           

2.     Deskripsi nyata yang dilakukan dan alasan melakukan aksi tersebut.

Berdasarkan rancangan aksi nyata, deskripsi nyata yang dilakukan dan alasan melakukan aksi tersebut sebagai berikut :

Linimasa tindakan yang akan dilakukan

Perencanaan

Tanggal  10 desember 2020 mengadakan rapat dewan guru dan kepala sekolah untuk mensosialisasikan program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang).

Menyampaikan hal-hal yang harus disiapkan kepada teman sejawat

 Pelaksanaan

Tanggal 13,14 desember 2020 mulai program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang : Religius,Demokratis,Literasi, Gotong Royong, Cinta Lingkungan, Berkebhinekaan Global, dan Disiplin Positif).

                Kegiatan Akhir

Mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan apakah sudah mencapai tujuan atau belum

Memperbaiki kekurangan yang terdapat pada kegiatan yang telah dilaksanakan

3.     Hasil dari aksi nyata yang dilakukan

·         Tampak tanggal  10 desember 2020 mengadakan rapat dewan guru dan kepala sekolah untuk mensosialisasikan program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang).

·         Tampak tersampaikannya hal-hal yang harus disiapkan kepada teman sejawat

·         Tampak Tanggal 13,14 desember 2020 mulai program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang : Religius,Demokratis,Literasi, Gotong Royong, Cinta Lingkungan, Berkebhinekaan Global, dan Disiplin Positif).

·         Tampak testimoni dari pemangku kepentingan seperti WAKA Kurikulum, WAKA Kesiswaan, Peserta didik pada umumnya merespon positif tentang program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang).

·         Kegiatan sudah berjalan dengan baik dan direspon positif

·         Kegiatan yang dilakukan masih ada kekurangan maka evaluasi dan program tindak lanjut kedepan telah kami lakukan melalui kolaborasi dan komunikasi.

4.     Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan (kegagalan dan keberhasilan)

·         Program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang) dapat terpenuhi, output dari kegiatan  diutamakan pada terealisasinya penumbuhan karakter dan terlahirnya insan pendidikan SMABAS BERKARAKTER sebagai salah satu implementasi nyata profil pelajar pancasila dalam di SMAN 1 Basarang.

·         Kegiatan yang dilakukan masih ada kekurangan maka evaluasi dan program tindak lanjut kedepan telah kami lakukan melalui kolaborasi dan komunikasi.

 

5.     Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

·         Dalam Mengimplementasikan  program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang), penulis sebagai CGP melakukan rencana perbaikan dimasa mendatang dengan melakukan beberapa hal sebagai berikut:

·         Program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang) yang telah berjalan agar senantiasa ditingkatkan dan dievaluasi agar hasil yang diperoleh juga meningkat, mengingat betapa pentingnya program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang).

·         Untuk program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang) sebaiknya tidak hanya dilaksanakan oleh guru tertentu saja.namun hendaknya menjadi budaya positif sekolah.

·         Siswa akan lebih berkarakter nyata jika program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang) benar- benar terimplementasi secara tulus dan berpihak pada murid.

 

6.     Dokumentasi Proses Pelaksanaan Aksi Nyata

NO

DOKUMENTASI

KETERANGAN

1



PENJELASAN TENTANG RANCANGAN PROGRAM AKSI OLEH CGP aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang).

 

 

2



Sambutan IBU FUYI YANTI PIMAE, M.Pd Kepala SMAN 1 Basarang terkait program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang).

 

 

3



Penjelasan oleh CGP Basarang terkait program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang).

 

4



Sosialisasi program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang) kepada peserta didik di kelas oleh Bapak Made Pujangga, S.Pd selaku CGP

 

5





Tampak Tanggal 13 desember 2020 mulai program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang : Gotong Royong, Cinta Lingkungan

7



Tampak Tanggal 14 desember 2020 mulai program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang : literasi

8



Tampak Tanggal 13, desember 2020 mulai program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang : demokratis

9




Tampak Tanggal 13, desember 2020 mulai program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang : disiplin positif

10



Tampak Tanggal 13, desember 2020 mulai program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang : Berkebhinekaan Global

11



Tampak Tanggal 13, desember 2020 mulai program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang : Religius

12



Testimoni dari dewan guru terkait program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang).

 

13





 

 

Testimoni dari peserta didik terkait program aksi nyata terkait modul 1.4 Budaya Positif (Mewujudkan “ SMABAS BERKARAKTER ” melalui Penerapan Budaya Positif di SMAN 1 Basarang).

 

 

LINK VIDEO DOKUMENTASI AKSI NYATA 1.4

https://drive.google.com/file/d/1v56bAKNpvw4f7HI23Ez9zBZNHLe2uQBv/view

LINK YOUTUBE DOKUMENTASI AKSI NYATA 1.4

https://youtu.be/orcqI3Ak9J0